Ketika Alam dan Keserakahan Manusia Bertemu
Oleh: Farid Dermawan
Bencana yang berulang di Sumatera kerap disebut sebagai murka alam. Namun, tragedi demi tragedi seharusnya mendorong kita untuk bercermin, bukan sekadar berduka. Tsunami Aceh 26 Desember 2004—salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah manusia—menjadi pengingat bahwa alam memiliki kekuatan luar biasa. Namun pada saat yang sama, peristiwa itu juga membuka mata kita tentang bagaimana keserakahan manusia memperparah dampak bencana.
Tsunami Aceh memang dipicu oleh gempa tektonik besar, sebuah peristiwa alam yang berada di luar kendali manusia. Namun besarnya jumlah korban dan kehancuran tidak sepenuhnya bisa dilepaskan dari ulah manusia sendiri. Kerusakan hutan mangrove di sepanjang pesisir Aceh, penataan ruang yang mengabaikan zona aman, serta pembangunan yang terlalu dekat dengan garis pantai membuat masyarakat berada dalam posisi sangat rentan ketika gelombang besar itu datang.
Mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami telah lama ditebang demi tambak dan kepentingan ekonomi sesaat. Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa wilayah yang masih memiliki mangrove relatif mengalami kerusakan lebih ringan. Di sinilah letak ironi: alam telah menyediakan perlindungan, tetapi manusia justru menghancurkannya.
Tsunami Aceh seharusnya menjadi pelajaran besar bagi seluruh Sumatera. Sayangnya, dua dekade berlalu, kesalahan yang sama terus diulang dalam bentuk berbeda. Deforestasi di hulu sungai menyebabkan banjir dan longsor, sementara eksploitasi pesisir memperbesar risiko bencana laut. Alam tidak berubah—manusialah yang terus mengulangi keserakahannya.
Bencana-bencana di Sumatera hari ini, baik banjir bandang, kebakaran hutan, maupun abrasi pantai, adalah perpanjangan dari pola pikir yang sama: mengejar keuntungan jangka pendek dengan mengorbankan keseimbangan alam. Jika tsunami Aceh adalah peringatan keras, maka bencana hari ini adalah kelanjutannya—peringatan yang semakin sering, namun semakin diabaikan.
Mengenang tsunami Aceh bukan hanya soal menghormati korban, tetapi juga tentang keberanian untuk berubah. Alam tidak pernah berkhianat pada manusia; manusialah yang berulang kali mengkhianati alam. Jika Sumatera ingin selamat dari bencana yang terus membesar, maka keserakahan harus dihentikan, dan kebijaksanaan dalam menjaga alam harus menjadi pegangan utama.






