Aceh Besar – Upaya Pemerintah Aceh dalam menyurati Presiden RI terkait izin technical stop with traffic rights bagi maskapai Arab Saudi di Bandara Sultan Iskandar Muda (BTJ) merupakan hasil dari diskusi teknis yang mendalam antara pengelola bandara dan Pemerintah Daerah.
General Manager (GM) Bandara Sultan Iskandar Muda, Setiyo Pramono, mengungkapkan bahwa langkah strategis ini merupakan hasil kolaborasi aktif antara Tim Routes Development Bandara BTJ dengan Dinas Perhubungan Provinsi Aceh dalam memetakan kebutuhan mobilitas masyarakat Aceh.
Kajian Teknis Berbasis Data itu, dijelaskan bahwa Tim Routes Development BTJ secara internal telah lama melakukan kajian mengenai potensi rute dan optimalisasi efisiensi. Kajian inilah yang kemudian menjadi landasan diskusi saat bersinergi dengan Dinas Perhubungan Aceh.
”Kami di Bandara SIM, melalui Tim Routes Development BTJ ini, secara rutin melakukan pemetaan rute strategis. Hasil diskusi aktif kami dengan Kadishub Aceh, sisimpulkan bahwa skema technical stop adalah solusi paling rasional untuk menekan biaya tiket yang tinggi akibat keterbatasan armada wide body saat ini,” ujar Setiyo Pramono.
Penyusunan konsep surat yang disampaikan Gubernur kepada Presiden merupakan bentuk konkret dari sinergi tersebut. Tim Bandara BTJ berperan dalam memberikan masukan data teknis penerbangan, sementara Pemerintah Aceh mengambil peran sebagai regulator daerah yang membawa aspirasi tersebut ke tingkat nasional.
Beberapa poin yang dikedepankan dalam diskusi kolaboratif tersebut antara lain Optimalisasi Skala Prioritas Mengidentifikasi solusi tercepat bagi 32.000 potensi jamaah umrah Aceh per tahun melalui izin traffic rights.
Kemudian Efisiensi Operasional untuk Mendorong penyesuaian harga avtur agar lebih kompetitif bagi maskapai internasional di BTJ.
Selanjutnya Penyediaan Data untuk Memastikan argumen dalam surat resmi tersebut didukung oleh data lapangan yang akurat dari sisi pengelola bandara.
”Peran kami adalah memastikan bahwa setiap kebijakan yang diusulkan oleh Bapak Gubernur memiliki dasar teknis yang kuat di lapangan. Kami sangat mengapresiasi respons cepat Dinas Perhubungan Aceh yang sangat terbuka dalam mendiskusikan temuan dan inisiasi dari tim kami di bandara,” tambah Setiyo.
Sebagai bentuk tanggung jawab atas inisiasi tersebut, manajemen Bandara SIM memastikan seluruh fasilitas pendukung telah siap jika izin tersebut diberikan. Hal ini mencakup kesiapan infrastruktur untuk melayani maskapai luar negeri secara reguler, guna mewujudkan akses perjalanan religi yang lebih mudah dan terjangkau bagi warga Serambi Mekkah.





