Meugang Tradisi Rakyat Aceh yang Tidak Perlu Daging Impor

Meugang Tradisi Rakyat Aceh yang Tidak Perlu Daging Impor

Oleh:

Arief Fadhillah

 

Tradisi Meugang merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, masyarakat Aceh berbondong-bondong membeli dan memasak daging sebagai bentuk syukur, kebersamaan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan adat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan ketergantungan pada daging impor untuk memenuhi kebutuhan Meugang. Kondisi ini patut menjadi perhatian bersama.

Aceh sejatinya memiliki potensi besar di sektor peternakan. Lahan yang luas, budaya beternak yang telah lama hidup di tengah masyarakat, serta permintaan pasar yang tinggi menjelang Meugang merupakan modal kuat untuk memenuhi kebutuhan daging secara mandiri. Ketergantungan pada daging impor justru melemahkan peternak lokal dan membuat perputaran ekonomi keluar dari daerah.

Selain berdampak pada ekonomi lokal, impor daging juga berpotensi menggerus makna Meugang itu sendiri. Tradisi ini bukan semata tentang konsumsi daging, melainkan tentang kebersamaan, keadilan sosial, dan berbagi. Ketika daging impor membanjiri pasar, harga daging lokal kerap tertekan, sementara peternak kecil tidak menikmati manfaat dari tingginya permintaan musiman.

Meugang seharusnya menjadi momentum pemberdayaan peternak Aceh. Pemerintah daerah dapat berperan aktif dengan memperkuat sistem peternakan lokal, mulai dari penyediaan bibit unggul, pakan terjangkau, hingga pengawasan distribusi agar daging lokal terserap maksimal di pasar.

Dengan perencanaan yang matang, kebutuhan daging Meugang dapat dipenuhi tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar.
Tradisi besar seperti Meugang selayaknya berdiri di atas kemandirian daerah. Mengandalkan daging lokal bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal harga diri dan keberlanjutan budaya. Aceh tidak kekurangan sumber daya untuk mempertahankan tradisinya sendiri. Meugang tidak membutuhkan impor, yang dibutuhkan adalah keberpihakan dan keseriusan dalam mengelola potensi yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed