Rupiah Berbalik Menguat setelah Kesepakatan Gencatan Senjata AS dengan Iran

Jakarta – Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 8 April 2026. Meskipun rate-nya masih terpaku di level Rp17.000an per dolar AS.

Menurut Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,54 persen atau 93 poin menjadi Rp17.012 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Selasa 7 April 2026, posisi rupiah melemah di level Rp17.105 per dolar AS.

Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS. “Ini ditopang langkah Presiden AS, Donald Trump, untuk menunda penyerangan ke Iran selama dua minggu,” ujarnya.

Sikap Trump menerima syarat gencatan senjata Iran juga mendorong penurunan tajam harga minyak dan pulihnya sentimen di pasar. Ini terlihat dari naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 7149,88 pada pembukaan perdagangan Rabu 8 April 2026.

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp16.950-Rp17.100 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar akan melemah dan berada pada level 98,99.

Penguatan nilai tukar rupiah tidak lepas dari intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) ke pasar. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan pihaknya akan mengoptimalisasikan operasi moneternya.

“BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki,” ujarnya. Selain itu, lanjut dia, BI akan menerapkan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Destry menambahkan BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang. Baik di spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market (pasar luar negeri).

Menurut Lukman Leong, oeprasi moneter yang dilakukan BI membantu menahan pelemahan rupiah lebih lanjut. “Jadi, hari ini rupiah seharusnya bisa menguat cukup besar,” ujarnya.

 

 

 

Sumber: RRI.Co

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed