Banda Aceh, 11 Juli 2026 – Tim Adiwiyata SD Negeri 6 Banda Aceh melaksanakan hari kedua Pelatihan Pengelolaan Sampah “FOLU Goes to School” dengan mengajak 50 guru Sekolah Dasar dari berbagai sekolah di Kota Banda Aceh mengikuti pembelajaran lapangan di KamiKITA Community Center, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan yang dikoordinatori oleh Mudassir selaku Ketua Pelaksana ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas guru dalam mengembangkan pengelolaan sampah berbasis sekolah untuk mendukung Program Adiwiyata dan target FOLU Net Sink 2030.
Berbeda dengan hari pertama yang berisi penguatan materi mengenai perubahan iklim, Program Adiwiyata, dan pengelolaan sampah, pada hari kedua peserta diajak belajar langsung dari berbagai praktik baik yang telah diterapkan oleh komunitas lingkungan.

Pemateri pertama, Henny Cahyanti, mengajak peserta memahami bahwa persoalan sampah sesungguhnya berakar pada perilaku manusia. Menurutnya, keputusan seseorang membuang sampah sering kali dipengaruhi oleh kondisi psikologis.
“Masalah sampah bersifat psikologis. Banyak keputusan kita untuk membuang sampah dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Ketika merasa tidak ada yang melihat, seseorang cenderung menganggap membuang sampah sembarangan bukanlah masalah. Karena itu, yang harus diperbaiki adalah perilaku manusianya,” jelas Henny.
Ia menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik melalui pembiasaan dan keteladanan sehingga budaya peduli lingkungan dapat tumbuh sejak usia dini.
Selanjutnya, Amber Desist memperkenalkan berbagai inovasi pengelolaan sampah nonorganik, khususnya limbah kaca dan plastik. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, peserta diperlihatkan bagaimana sampah dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan estetika. Guru didorong untuk mengembangkan pembelajaran berbasis proyek dengan memanfaatkan sampah sebagai media belajar yang mampu menumbuhkan kreativitas, kepedulian lingkungan, dan jiwa kewirausahaan peserta didik.
Materi berikutnya disampaikan oleh Yuliana yang mengajak peserta mengunjungi Kebun Organik KamiKITA. Kebun yang memiliki beragam jenis tanaman tersebut menjadi contoh bagaimana ruang hijau di kawasan perkotaan mampu membentuk ekosistem yang mendukung keanekaragaman hayati sekaligus berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Para guru memperoleh inspirasi untuk mengembangkan kebun sekolah sebagai laboratorium hidup yang mendukung pembelajaran kontekstual.
Pada sesi terakhir, Edi Ginting memberikan praktik langsung pengolahan sampah organik menjadi kompos dan media tanam. Peserta mempelajari bahwa sampah organik bukanlah limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular yang mampu mengurangi volume sampah sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dari sektor limbah.
Selama kunjungan lapangan, para guru aktif berdiskusi, mengamati proses pengelolaan sampah, serta mencoba berbagai teknik yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Pengalaman tersebut melengkapi materi yang telah diperoleh pada hari pertama sehingga peserta memiliki gambaran utuh mengenai implementasi pengelolaan sampah berbasis sekolah.
Sebagai tindak lanjut, setiap peserta menyusun rencana aksi yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Rencana tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, memperkuat budaya sekolah peduli lingkungan, serta mendorong lahirnya sekolah-sekolah Adiwiyata baru di Kota Banda Aceh.
Pada sesi penutupan, Mudassir, selaku Ketua Pelaksana sekaligus Koordinator Tim Adiwiyata SD Negeri 6 Banda Aceh, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan awal dari gerakan bersama untuk membangun sekolah yang lebih peduli terhadap lingkungan.
“Pelatihan ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi awal sebuah gerakan. Kami berharap setiap guru menjadi agen perubahan di sekolahnya masing-masing. Mulailah dari kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengolah sampah organik, dan melibatkan peserta didik dalam setiap aksi lingkungan. Ketika guru bergerak, sekolah akan berubah. Ketika sekolah berubah, dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat luas,” ujar Mudassir.
Ia juga mengajak para peserta untuk terus membangun kolaborasi antarsekolah agar praktik-praktik baik yang diperoleh selama pelatihan dapat direplikasi secara berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan Program Adiwiyata tidak hanya diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi dari tumbuhnya budaya peduli lingkungan yang menjadi kebiasaan seluruh warga sekolah.
Melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Adiwiyata SD Negeri 6 Banda Aceh ini, para guru diharapkan mampu menjadi penggerak utama pendidikan lingkungan di sekolah dasar serta berkontribusi nyata dalam pengurangan timbulan sampah, penerapan ekonomi sirkular, dan pencapaian target FOLU Net Sink 2030 melalui sektor pendidikan.





